Adang Budaya : Menakar Diri, Membangun Optimisme di Penghujung Pandemi

nasional, news, opini

Oleh :Adang Budaya,S.Sy.,M.H, Tenaga Ahli DPR RI Fraksi PPP dan Wasekjen PN AMK Bidang Fungsional

Sebagai insan biasa yang tidak luput dari kealfaan, sadar akan kekhilafan yang telah dilakukan merupakan satu momentum bagi kita untuk terus berbenah. Setelah melakukan perjalanan panjang selama kurang lebih 365 hari dalam tiap detik, menit, jamnya mampu menumbuhkan suatu keadaan yang mendorong diri kita untuk melakukan rebooting time (memulai ulang) setelah semuanya berjalan, berputar dalam kurun waktu tertentu.

Manusia tercipta memiliki satu entitas yang kompleks sebagai makhluk sempurna dan mulia, meski hal ini tidak berarti bahwa ia hidup terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Menurut Adz-Dzaky (2004:13), manusia adalah salah satu makhluk Allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah lebih-lebih rohaniyahnya.

Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Sedangkan menurut kaidah ilmu pengetahuan, manusia adalah makhluk hidup yang dibekali akal dan pikiran sehingga memiliki derajat yang berbeda di antara makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Manusia juga merupakan makhluk hidup yang dapat memberikan perubahan terhadap peradaban kehidupan di dunia.

Omar Mohammadal-Toumy Al-Syaibany mengungkapkan bahwa manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.

Adanya metamorfosa perkembangan zaman dari masa ke masa, membuat manusia semakin kritis dalam menentukan satu keputusan pemikiran, menilai sesuatu yang asing dan pola transaksi alam, pikiran dan perbuatan yang semakin beragam.

Manusia tidak terfokus pada satu tujuan yang baku, adakalanya ia membuat hipotesa-hipotesa yang mampu merubah drastis suatu keadaan tertentu, sebagaimana yang disampaikan I Wayan Watra dalam pemikirannya yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.

Setiap kejadian yang dialami, pengalaman yang pernah terlewati baik oleh dirinya langsung ataupun oranglain mampu ia analisa lalu kemudian menghasilkan satu formulasi tertentu untuk ia bandingkan dengan pesan-pesan suci dari Kalam Tuhan sehingga mampu melahirkan lapisan elemen pondasi yang kokoh dalam menjangkau pribadi yang sempurna (insan kamil).

Disinilah letak perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya yang paling mendasar.Korelasi antara satu keinginan besar seseorang untuk melakukan perenungan dengan suatu keadaan dimasanya, bisa kita lihat salahsatunya dimasa pandemi ini.

Di akhir 2021 dengan kondisi pandemi yang belum usai sejak 2019 lalu, melahirkan manusia-manusia “insan kamil” masa kini. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil melewati masa kritis ini dengan sikap yang positif, kreatif, inovatif dan solutif.

Mereka adalah orang-orang yang mampu beradaptasi dengan keadaan, mereka yang terlepas dari belenggu keputusasaan.Untuk mengukur seseorang apakah ia berhak menyandang status sebagai orang yang cakap dalam melewati seluruh tantangan zaman, bisa dilihat dari kemampuan ia untuk tidak menyerah dengan keadaan sesulit apapun.

Karena sebagai seorang manusia yang juga merupakan hamba dari Sang Pencipta, ia terlahir memiliki satu keyakinan yang kuat akan kerja Tuhan dalam setiap langkahnya.Satu padanan nilai yang perlu dibangun dan ditularkan kepada yang lainnya, karena kepekaan terhadap nilai-nilai utama sebagai seorang manusia yang berkualitas pada dasarnya tidak dimiliki semua orang.

Perlu adanya upaya-upaya kuat yang berkesinambungan dalam mentransfer energi kebaikan tersebut. Terutama dimasa kini, langkah itu sangat wajib untuk dilakukan demi menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang kuat dan berkualitas baik secara emosional, intelektual, maupun spiritual.

Tinggalkan Balasan