Filosofi dan Makna Upacara Tingkeban Tradisi Tujuh Bulan dalam Usia Kehamilan

edukasi, Peristiwa, Regional, Tradisional

TEMANGGUNG, news4.online – Salah satu tradisi Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Tingkeban juga sering disebut juga dengan Mitoni.

Tradisi tingkeban merupakan upacara adat Jawa dalam rangka 7 bulanan bayi dalam kandungan atau upacara 7 bulanan kehamilan dan merupakan upacara terakhir sebelum kelahiran, dan hakikat dari tingkeban tidak lain adalah mendoakan ibu calon jabang bayi supaya selamat dan lahir dengan normal.

Agus salah satu yang menggelar tingkeban, menerangkan asal usul dari tingkeban yang disebut juga mitoni diambil dari kata pitu atau tujuh atau upacara adat yang dilaksanakan ketika usia kandungan memasuki tujuh bulan. Jumat (03/06/2023).

“Tingkeban merupakan upacara adat dan tradisi lama yang diwariskan dari turun temurun,” ujarnya.

Tambahnya, konon tingkeban ini sudah dikenal dari masa Prabu Jayabaya ketika kejayaan Kerajaan Kediri. Ketika itu ada seorang wanita bernama Niken Satingkeb yang menikah dengan seorang punggawa kerajaan Kediri bernama Sadiyo.

Namun, lanjut Agus Niken Sutingkeb dari hasil pernikahan tersebut sudah melahirkan sebanyak sembilan kali tetapi tidak ada yang selamat. Dan itu membuat pasangan tersebut bersedih sampai akhirnya mereka mendatangi Prabu Jayabaya dan meminta saran.

“Sang Prabu memberikan 3 anjuran yang harus dilakukan untuk Niken Sutingkeb dan Sadiyo,” ungkapnya.

Jelasnya, tiga hal yang harus dilakukan antara lain adalah pertama mandi setiap hari Rabu (tumbah), kedua mandi hari Sabtu (budha), dan ketiga mandi suci dengan menggunakan air suci dan gayung dari batok kelapa.Pada saat mandi suci, Niken Satingkeb diminta untuk memanjatkan doa harapan agar jika hamil lagi diberi kelancaran dan bayinya sehat.

“Sejak saat itu, apa yang dilakukan Niken Satingkeb tersebut menjadi tradisi yang dilakukan wanita saat mengandung,” terusnya.

Acara tingkeban tidak bisa dilakukan sembarangan waktu harus dicarikan hari baik menurut perhitungan jawa. Adapun rangkaian tingkeban dimulai dengan siraman atau mandi, yang merupakan simbol penyucian jiwa dan raga. Berikutnya adalah memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain sarung calon ibu, yang dilakukan oleh suaminya. Setelah itu adalah rangkaian upacara brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Arjuna dan Sumbadra.

Kemudian, calon ibu akan mengganti busana dengan kain sebanyak tujuh motif yang berbeda-beda. Upacara ditutup dengan minum jamu sorongan, yang melambangkan agar anak yang dikandung akan mudah saat dilahirkan penjelasan dari Agus warga Desa Petarangan ini.

Lanjutnya, tujuan diadakan tingkeban adalah mendoakan bayi yang didalam kandungan selalu diberi kesehatan. Selain itu, masyarakat Jawa juga meyakini tingkeban harus dilaksanakan agar ibu dan anak dalam kandungan terhindar dari malapetaka.

“Upacara tingkeban juga mengandung makna solidaritas primordial yang berkaitan dengan adat-istiadat yang sudah turun-temurun,” tegasnya.

Terangnya, Bagi masyarakat Jawa, mengabaikan adat akan menimbulkan celaan dan nama buruk bagi keluarga.

“Meninggalkan tingkeban tidak hanya melanggar etik status sosial, namun juga tidak menghormati tatanan para leluhur,” tandasnya.(Slamet)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan