Hepatitis akut misterius

Kemenkes Minta Masyarakat Waspada dan Tenang Terkait Hepatitis Akut Misterius

lifestyle, nasional, news

JAKARTA, news4.online – Terkait dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia pada akhir-akhir ini yang belum diketahui penyebabnya, Kemenkes RI menghimbau masyarakat untuk waspada dan tenang.

“Kami himbau masyarakat tetap hati-hati dan tenang,” kata Juru Bicara Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam keterangan persnya.

Menurutnya masih dilakukan investasi penyebab hepatitis akut tersebut.

“Tindakan pencegahan perlu dilakukan dengan mencuci tangan, pastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, hindari kontak dengan orang sakit, dan selalu terapkan Prokes,” lanjutnya.

dr. Nadia pun meminta bila ada anak-anak yang mengalami kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, dan kesadarannya menurun untuk diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Bila mengalami gejala tersebut segera periksakan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat,” imbaunya.

Untuk diketahui jumlah laporan hepatitis akut terus bertambah sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO. Tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara.

WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya terkait 10 kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun, periode Januari-Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

Kemudian kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan-16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya atau 10 persen memerlukan transplantasi hati dan 1 kasus dilaporkan telah meninggal dunia. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice atau penyakit kuning akut, dan gejala gastrointestinal atau nyeri abdomen, diare, dan muntah-muntah. Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.

Penyebab dari penyakit itu masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium di luar negeri telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.

Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus di luar negeri yang seusai dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. Lalu SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Di Indonesia diketahui sesudah 3 pasien anak yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta meninggal dunia dengan dugaan hepatitis akut dan belum diketahui penyebab kematiannya, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022. Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 Tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) tertanggal 27 April 2022.
SURAT EDARAN KEWASPADAAN TERHADAP PENEMUAN KASUS HEPATITIS AKUT YANG TIDAK DIKETAHUI ETIOLOGINYA (ACUTE HEPATITIS OF UNKNOWN AETIOLOGY)+Lampiran

SE tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan Pemda, fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes)
, Kantor Kesehatan Pelabuhan, sumber daya manusia (SDM) kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya.

Kemenkes juga meminta Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Rumah Sakit untuk antara lain memantau dan melaporkan kasus sindrom Penyakit Kuning akut di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), dengan gejala yang ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul secara mendadak dan memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat serta upaya pencegahannya melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Tak lupa Kemenkes meminta pihak terkait untuk menginformasikan kepada masyarakat untuk segera mengunjungi Fasyankes terdekat apabila mengalami sindrom Penyakit Kuning, dan membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor.

”Tentunya kami lakukan penguatan surveilans melalui lintas program dan lintas sektor, agar dapat segera dilakukan tindakan apabila ditemukan kasus sindrom jaundice akut maupun yang memiliki ciri-ciri seperti gejala hepatitis,” ucap dr. Nadia. (*)

 

Editor : Edi

Tinggalkan Balasan