Legenda Sang Bergolo di Puncak Gunung Botorono

lifestyle, news, Regional

TEMANGGUNG, news4.online – Legenda dan mitos di tiap daerah asyik untuk didengarkan atau dipelajari karena masing-masing wilayah memiliki banyak cerita rakyat yang beredar turun temurun yang berbeda. Begitu pula terdapat sebuah mitos yang beredar di Negeri Tembakau, Temanggung yang memiliki potensi destinasi wisata yang viral, Puncak Botorono masuk wilayah Desa Petarangan, Kledung juga menyimpan berjuta misteri.


Daerah yang berada didua lereng gunung Sindoro-Sumbing ini memang menjadi buah bibir saat ini dikarenakan keindahan panorama alam yang sangat menjajikan,disamping dengan fenomena mitosnya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.

Mitos Asal Muasal Gunung Botorono

Konon cerita asal mula Puncak Botorono bermula pada jaman dahulu bukit kecil itu adalah puncak dari Gunung Sumbing. Menurut cerita turun temurun, waktu itu ketika Hanoman berdiri dipuncak Sumbing, pengikut Rama ini hampir saja dapat memetik bintang yang di langit namun hanya kurang dari satu jengkal tangannya. Melihat hal tersebut, sesepuh tanah Jawa Kyai Semar akhirnya menyuruh momongannya dari Pandawa yaitu Raden Werkudara untuk memotong puncak Sumbing agar tidak terlalu tinggi.


Singkat cerita dengan senjatanya sang Werkudara melakukan tugas yang disuruh pamomongnya itu untuk memotong gunung Sumbing dan menaruhnya di tengah-tengah antara Sindoro-Sumbing. Yang kini lebih dikenal dengan Puncak Botorono.Disamping itu Kyai Semar juga menaruh penjaga ghoib yang berwujud ular naga yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Kyai Bergolo yang bersemayam di Puncak Botorono.

Diungkapkan salah satu sesepuh desa, Mbah Darwoto mengatakan bahwa Kyai Bergolo merupakan naga ghaib kalau menampakan diri panjangnya ekor berada dipuncak dan kepala sampai di jembatan Kali Galeh jalan masuk menuju desa.

“Oleh karenanya di atas bukit itu ada petilasan tempat ziarah yang dikhususkan untuk beliau Kyai Bergolo,” jelas Mbha Darwoto, Jumat, (26/11/2021) “Tidak lupa dari jaman dulu tanah di sekitar petilasan tersebut harus disisakan walaupun sedikit. Sebab jika diolah semua menjadi ladang pertanian warga semua dampaknya daerah sekitar Desa Petarangan bisa terkena penyakit gatal bahkan dapat menyebar sampai kabupaten sekitar yaitu Magelang dan Wonosobo. Karena tempat mengerami telurya terusik, akhirnya kutu yang berada di sarang tersebut menyebar mengakibatkan penyakit gatal dimana-mana.”

Ditambahkan, itulah mengapa nama desa ini Petarangan yang diambilkan dari Bahasa Jawa. Petarangan artinya tempat untuk bertelur.

Di Puncak Gunung Botorono bagi para pengunjung serasa di langit dikarenakan dari lokasi ini dapat melihat pemandangan pantai utara maupun pelabuhan Tanjung Emas Semarang serta gunung merapi dan merbabu bila cuaca cerah, yang menarik bahwa di lokasi ini pengunjung tidak boleh berbuat yang negatif.

“Bagi yang mau berkunjung ke Puncak Botorono dianjurkan untuk menjaga sikap dan tutur bahasanya agar tidak terjadi apa-apa ketika berkunjung. Semuanya saling jaga dan menghormati adat yang berada di daerah masing-masing karena menjadikan hal itu indah.” pesan Pawit,” salah satu perangkat desa setempat.

“Itulah salah satu cerita yang menyelimuti tempat wisata ini dan masih banyak cerita lagi yang belum diungkapkan. Kita cuma bisa melestarikan cerita rakyat yang telah menjamur dan menjaganya tetap lestari karena itulah jati diri bangsa kita.” pungkas Pawit. (Gus)

Tinggalkan Balasan