Mengenal Penetapan Idul Fitri Secara Hitungan Aboge

Peristiwa, Tradisional

TEMANGGUNG, news4.online – Sejenak mengenal konteks Islam Jawa, yang masih dipraktekan oleh sebagian warga Temanggung salah satunya ada di Dusun Lamuk legok, Desa Legoksari, Kecamatan tlogomulya, Kabupaten Temanggung.

Warga desa ini pada umumnya beragama Islam dan sebagian besar NU namun dalam penentuan 1 Syawal masih menggunakan hitungan jawa atau Aboge.

Kita perlu mengetahui bahwa Aboge bukan salah satu aliran keagamaan tersendiri, pasalnya layaknya penganut agama Islam pada umumnya. Masyarakat yang menganut Aboge juga melaksanakan syariat Islam seperti biasanya.

Namun dalam Aboge ketika melaksanakan ritual Islamnya sering disertai dengan prakti ritus yang bersumber dari tradisi turun temurun dari kalangan masyarakat sendiri.

Sekali lagi Aboge bukanlah aliran atau bentuk ajaran tersendiri Aboge sendiri sebenarnya akronim dari Alip, Rebo, Wage yang merupakan hitungan dari kalender Jawa yang menggunakan hitungan satu windu (delapan tahun) untuk menyelesaikan periode suatu waktu.

Dalam hitungan Aboge satu windu terdiri dari tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir. Sedangkan satu tahun tetaplah dua belas bulan, dan satu bulan terdiri 29-30 hari, dengan hari pasaran Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Terkait dengan hitungan pasaran ini, hari pertama pada tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage.

Bukan hanya dianut di Dsn Lamuk Legok tetapi Aboge juga masih dianut dibeberapa wilayah di Temanggung dan masih dipegang teguh.

Oleh para penganutnya diyakini Aboge atau sistem kalender ini telah dipergunakan oleh para wali sejak abad ke 14.

Layaknya faham kejawen ketika berdoa masih menyisipkan ungkapan kakang kawah adi ari-ariari-ari, Kiblat papat limo pancer.

Sedulur papat atau kiblat papat adalah empat unsur yang lahir kedunia ini bersamaan kelahiran jabang bayi, kawah atau ketuban , ari-ari atau plasenta, puser atau tali pusar,dan getih atau darah.

Sedangkan aspek kelima adalah pancer atau pusat, yang berarti diri kita adalah sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.

Untuk tata cara berdoa penganut Aboge selalu diawali dengan bacaan basmalah, lalu bersholawat serta dilanjutkan dengan membaca doa seperti ini ” Kakang kawah adi ari-ari sedulur pitu ingkang nunggil sak garwo putro ingkang karhumatanku mboten kahurmatan kiblat sekawan gangsal pancer sedoyo tansah tumanjuk ing jiwo kasaleliro ing sak lami-laminipunlami-laminipun”.

Doa tersebut dimaksudkan memberi hormat bakti kepada unsur-unsur pada diri manusia sendiri yaitu bumi, api, air, angin, cipta, logika dan pikiran untuk tetap menjadi kesatuan yang utuh menjadikan bekal untuk diri pribadi selama-lamannya. (gus)

Tinggalkan Balasan