Potensi Perikanan dan Kondisi Nelayan Indonesia

nasional, news, opini

Oleh :

Harken
Ketua PN AMK Bidang Kemaritiman

 

News4.online – Setiap tanggal 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan Nasional, marilah dengan sejenak memberi apresiasi atas kerja yang telah dilakukan para nelayan Indonesia dengan penuh semangat berupaya memenuhi kecukupan gizi dan protein masyarakat sekaligus juga memberi kontribusi penghasilan bagi negara.

Hari Nelayan Nasional diperingati bukan hanya bentuk apresiasi, namun sebuah harapan guna membangkitkan, menggerakan, dan mendorong para nelayan dalam mencapai masyarakat adil dan makmur yang diamanahkan dalam undang-undang.

Pertanyaan besar sering muncul di setiap peringatan Hari Nelayan yaitu perihal kesejahteraan nelayan Indoneisa meliputi kemiskinan, keterbelakangan, perlindungan dan pemberdayaan yang tidak tepat sasaran serta rendahnya literasi yang dimiliki para nelayan.

Angkatan Muda Ka’bah berharap Pemerintah hadir dalam menjawab permasalahan yang dihadapi oleh para nelayan.

Hal ini sesuai dengan amanat UU Nomor 7 Tahun 2016 dimana Pemerintah hadir memberikan perlindungan, pemberdayaan, jaminan keamanan dan keselamatan.

Indonesia memiliki luas wilayah 7.81 juta kilometer persegi, terdiri dari 2.01 juta kilometer persegi daratan, 3.25 juta kilometer persegi lautan, serta 2,55 juta kilometer persegi Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE ) ini merupakan potensi yang besar dalam mengelola sektor perikanan.

Terdapat 13 sektor perekonomian Indonesia yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan meliputi perikanan tangkap, budidaya, industri pengolahan hasil budidaya, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi laut, sumber daya nonkonvensional, pulau-pulau kecil, benda-benda warisan budaya, bangunan kelautan, jasa lingkungan konversi dan biodiversitas.

Menurut data BPS, kontribusi sektor perikanan terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia menyumbang 2,4 persen dari total PDB indonesia pada tahun 2019.

Sementara Kementerian Kelautan Perikanan memaparkan tiga program yang menjadi prioritas hingga tahun 20024, pertama peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP ) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk kesejahteraan nelayan,

Kedua Pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan dan ketiga Pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal.

Diharapkan program yang sudah menjadi skala prioritas ini dapat diwujudkan agar kembali dirasakan oleh para nelayan dalam bentuk asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan.

KKP seyogyanya melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatan kepersertaan asuransi nelayan.

Menurut kami apabila nelayan sudah mendapat jaminan dalam bentuk asuransi tentu ini menjadi jaminan bagi para keluarga dan nelayan lebih fokus dalam menjalan aktifitasnya sebagai seorang nelayan.

Seyogyanya pemberdayaan yang dilakukan harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan para nelayan sehingga akan tepat pada sasaran dan ini bisa diselaraskan dengan kearifan lokal agar nelayan mudah beradaptasi.

Di sisi lain juga ada beberapa hal yang menjadi permasalahan yang dihadapi para nelayan Indonesia, dari ketidakpastian penghidupan, kemiskinan, dan regulasi yang kurang memihak nelayan kecil sehingga banyak nelayan yang beralih profesi.

Persoalan yang dihadapinya bukan hanya persoalan ekonomi namun juga kesulitan faktor alam menjadi permasalahan tersendiri yaitu adanya pergantian musim.

Pada musim-musim tertentu, saat cuaca sangat ekstrim berakibat nelayan yang mempunyai armada kecil tidak berani untuk melakukan aktifitas mencari ikan ke laut.

Permasalahan lain yang dihadapi para nelayan yakni adanya keberadan nelayan asing dan juga ketentuan teritorial negara tetangga yang berdekatan dengan Indonesia seperti Australia, Malaysia, dan PNG.

Oleh karenanya menurut kami para nelayan Indonesia harus juga diberikan pemahaman literasi perihal regulasi yang berlaku sehingga tidak terjadi pelanggaran dalam melakukan aktifitas penangkapan ikan

Beberapa kasus lain dengan masuknya armada penangkapan ikan berbendera asing yang illegal ke wilayah Indonesia atau ZEE Indoneisa tidak jarang terjadi.

Terutama kasus yang terjadi di wilayah perairan Natuna atau disebut Wilayah Penggelolaan Perikanan 711 yang memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat tinggi apalagi armada kapal asing tersebut sering dilengkapi dengan alat tangkap yang lebih canggih

Berdasarkan berbagai permasalahan yang dihadapi para nelayan, diharapkan momen peringatan Hari Nasional kali ini memutus belenggu keterpurukan yang dihadapi nelayan.

Ironis bila dilihat dari posisi garis pantai terpanjang kedua di dunia namun penghidupan nelayan jauh dari kata sejahtera.

Tinggalkan Balasan