Ssts, Dilarang Cerita Angling Dharma Di Kedu

Peristiwa, Regional, Tradisional

TEMANGGUNG,news4.online – Angling Dharma mungkin sudah tidak asing terdengar ditelinga masyarakat khususnya Jawa. Bahkan sudah pernah di buat sinetron salah satu tv swasta di Indonesia.

Mitos yang bersangkutan tentang Angling Dharma disakralkan dan berkembang dari turun temurun khususnya diwilayah sekitar Temanggung.

Pantangan dan larangan pun akhirnya muncul untuk menceritakan hal- hal yang bersangkutan tentang sosok tersebut diwilayah daerah ini.

Adanya peristiwa ghoib dan mala petaka yang dikaitkan ketika menceritakan Angling Dharma tersebut membuat suasana semakin mistis dan banyak masyarakat yang memilih diam tidak menyebut nama bahkan menceritakannya.

Dalam legenda yang dituturkan dari lesan ke lesan Angling Darma adalah sosok Raja Malawapati. Situs-situsnya dipercaya berada di gugusan bukit (Gunung Bandang) wilayah Kelurahan Bojonegoro, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Dari versi yang lain Angling Dharma ternyata juga dikenal sebagai putra seorang raja di daerah Bojonegoro, Jawa Timur. Ia digambarkan sebagai pria yang memiliki paras tampan. Selain itu ia juga memiliki guru sakti, yang berwujud ular, tempatnya di Gunung Srandil.

Di Kedu menyangkut keberadaan situs di Kelurahan Bojonegoro berupa balai kelurahan yang dipercaya sebagai kedaton (istana), serta sendang yang dipercaya sebagai tempat munculnya mliwis putih dan sebuah makam (petilasan) di Bukit Bandang.

Ruwadi warga Desa Petarangan, Kec. Kledung mengatakan pengalamanya bahwa ketika dia melakukan pentas seni Ketoprak dengan mengangkat cerita raja Malawapati tersebut banyak terjadi fenomena ganjil, diantaranya munculnya angin besar secara tiba- tiba dan panggung seakan mau dirobohkan padahal lokasi pentas di Desa Petarangan lumayan jauh dari Kedu sehingga pentas dihentikan. Pada Sabtu (15/1/2022).

Sedangkan Mbah Moyong warga Desa Gondang Wayang, Kec. Kedu menyatakan adanya tiga tempat diarea pesarean Angling Dharma jadikan alasan mitos itu menjadi sangat diyakini. Pantangan besar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Kedu untuk menuturkan kisah Angling Dharma.

“Beberapa peristiwa negatif bisa muncul ketika menyebutkan dengan secara lisan. Dari bencana kecil bahkan sampai pada kematian sang penuturnya. Sugesti mistik itu sampai sekarang masih mbalung sungsum (mendarah daging) di masyarakat Kedu, khususnya di Kelurahan Bojonegoro,” pungkasnya. (Gus)

Tinggalkan Balasan